Selasa 13 Oktober 2026 - 19:45
Filsafat Pengutusan Para Nabi

Hawzah/ Banyaknya nabi-nabi Ilahi dan perbedaan syariat-syariat samawi telah menjadi latar belakang munculnya pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa muncul agama-agama baru dan hubungannya dengan agama-agama sebelumnya; sebuah topik yang mengajak kita untuk mengkaji filsafat pengutusan para nabi dan jalan hidayah umat manusia.

Berita Hawzah – Dalam teks berikut kami membahas sebuah syubhat penting tentang mengapa Islam muncul setelah Kristen dan perbedaan syariat-syariat Ilahi.

Bayangkan sepanjang sejarah, banyak nabi telah datang dari sisi Allah; semuanya berbicara tentang satu Tuhan, mengajak manusia kepada kebaikan dan keadilan, serta menunjukkan jalan hidup yang benar kepada mereka. Namun dengan kedatangan setiap nabi, muncul pertanyaan: jika nabi sebelumnya berasal dari sisi Allah, mengapa Allah mengirim nabi yang lain? Apakah nabi baru akan menolak perkataan nabi sebelumnya atau memiliki misi yang lain?

Pertanyaan ini menjadi lebih serius ketika kita memperhatikan Nabi Isa (as) dan Nabi Islam Muhammad (Saww). Nabi Isa (as) diutus berabad-abad sebelum Nabi Islam Muhammad (Saww) dan agama Kristen sudah ada sebelum munculnya Islam. Lalu mengapa Nabi Islam (Saww), alih-alih mengikuti agama Kristen, diutus sebagai nabi dan membawa syariat Islam? Apakah kedatangan Islam berarti penolakan terhadap agama sebelumnya?

Untuk menjawabnya, pertama-tama kita harus memperhatikan satu poin penting: semua Nabi Ilahi pada dasarnya sama dalam dakwah mereka, tetapi tidak serta-merta semua hukum dan perintah mereka identik.

Sebagai contoh, seorang guru dalam suatu periode pendidikan mengajarkan materi-materi kepada para siswa, dan pada periode berikutnya, guru lain melanjutkan jalur yang sama dan menambahkan materi-materi baru padanya. Kedatangan guru kedua bukan berarti guru pertama melakukan kesalahan; melainkan bisa jadi pengajaran pada setiap tahap disesuaikan dengan kebutuhan tahap tersebut. Tentu saja contoh ini hanya untuk pemahaman yang lebih baik tentang masalah ini; karena kenabian adalah misi Ilahi dan berbeda dengan pengajaran biasa.

Berdasarkan ajaran-ajaran Islam, Allah sepanjang sejarah telah mengutus para nabi untuk membimbing manusia. Prinsip dakwah mereka adalah menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan menjauhi dosa serta kerusakan; tetapi mungkin sebagian hukum dan perintah mereka berbeda sesuai dengan misi masing-masing nabi. Oleh karena itu, perbedaan dalam hukum bukan berarti perbedaan dalam prinsip dakwah Ilahi atau ketidakbenaran nabi sebelumnya.

Namun pertanyaan utama masih tetap ada: Mengapa Nabi Islam (Saww) tidak mengikuti syariat sebelumnya dan membawa syariat yang baru?

Poin pentingnya adalah bahwa penetapan waktu berakhirnya risalah para nabi adalah wewenang Allah, bukan manusia. Kita tidak dapat hanya dengan bersandar pada anggapan kita sendiri mengatakan apakah manusia masih membutuhkan nabi atau tidak; melainkan kita harus melihat apa yang Allah firmankan tentang hal ini dan apa dalilnya. Dalam pandangan Islam, Allah dengan pengutusan Nabi Muhammad (Saww) telah mengirim nabi terakhir-Nya dan dalam ayat 40 Surah Al-Ahzab, Dia memperkenalkannya sebagai "Khatamun-Nabiyyin" (penutup para nabi).

Di sisi lain, kedatangan nabi baru bukan berarti para nabi sebelumnya tidak valid. Terkadang untuk mencapai suatu tahap akhir, fondasinya harus disiapkan secara bertahap. Kita tidak bisa selalu mengharapkan suatu program besar dilaksanakan secara sempurna sejak awal; mungkin tahap-tahap sebelumnya mempersiapkan landasan bagi terwujudnya tahap akhir. Dalam pandangan Islam, risalah para nabi sebelumnya juga merupakan bagian dari jalan hidayah manusia dan mempersiapkan landasan bagi kedatangan Nabi Islam (Saww). Al-Qur'an juga menukil dari lisan Nabi Isa (as) kabar gembira tentang kedatangan seorang nabi setelahnya: "وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ یَأْتِی مِنْ بَعْدِی اسْمُهُ أَحْمَدُ"؛ aku membawa kabar gembira tentang seorang nabi setelahku yang namanya Ahmad (As-Saff, ayat 6). Oleh karena itu, berdasarkan pandangan Islam, kedatangan Nabi Islam (Saww) bukanlah peristiwa yang tidak berkaitan dengan risalah-risalah sebelumnya, melainkan berada dalam kelanjutan jalur yang sama.

Tetapi mungkin Anda bertanya: jika Islam datang 1400 tahun yang lalu, mengapa hari ini kita masih harus mengikutinya? Jawabannya adalah bahwa kuno-nya suatu pesan tidak dengan sendirinya menjadi bukti ketidakbenarannya; sebagaimana baru-nya suatu keyakinan juga tidak dengan sendirinya menjadi bukti kebenarannya. Yang penting adalah dalil dan validitas pesan itu. Jika terbukti bahwa Allah mengirim suatu syariat untuk membimbing manusia dan menjadikannya sebagai syariat terakhir, maka berlalunya waktu tidak dengan sendirinya membuatnya tidak valid. Tentu saja pembuktian hal ini memerlukan pengkajian dalil-dalil kenabian Nabi Islam (Saww) dan kebenaran Al-Qur'an; sekadar klaim khatamiah tidak cukup untuk membuktikannya, yang dalam jawaban ini tidak dapat dibahas.

Ada poin lain juga: dalam pandangan Islam, kita tidak boleh menganggap semua keyakinan yang hari ini dikenal dengan nama Kristen, tanpa pengkajian, sebagai identik dengan ajaran Nabi Isa (as). Kaum Muslimin meyakini bahwa Nabi Isa (as) menyeru manusia untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi sebagian keyakinan yang umum dalam Kristen, seperti ketuhanan Nabi Isa (as) dan trinitas, tidak sejalan dengan keyakinan Islam tentang tauhid. Oleh karena itu, dari sudut pandang Islam, mengikuti ajaran-ajaran asli Nabi Isa (as) tidak serta-merta berarti menerima semua keyakinan yang umum dalam Kristen.

Oleh karena itu, Nabi Islam (Saww) tidak dimaksudkan untuk memilih antara menerima risalah Nabi Isa (as) atau risalahnya sendiri. Berdasarkan keyakinan Islam, keduanya adalah nabi Allah, tetapi Nabi Muhammad (Saww) memiliki misi untuk menyampaikan syariat Ilahi yang terakhir. Tuhan yang sama yang mengutus Nabi Isa (as) untuk membimbing manusia, juga memilih Nabi Muhammad (Saww) sebagai nabi dan melalui beliau menyampaikan tahap akhir hidayah kepada manusia. Jadi masalah utamanya bukanlah mengapa Nabi Islam (Saww) tidak mengikuti agama sebelumnya; melainkan apakah kita memiliki dalil yang valid yang menunjukkan bahwa Allah memilihnya sebagai nabi dan menetapkan syariat Islam sebagai syariat terakhir? Dalam pandangan kaum Muslimin, kenabian Nabi Islam (Saww) dan kebenaran Al-Qur'an adalah dasar untuk menerima kebenaran ini.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha